Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah (PJP)
Berikut adalah artikel yg aku ambil dari Surat Kabar Harian Sinar Harapan ttg Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah (PJP). Berkali-kali aku sampaikan dalam blog ini bahwa sumber penyakit berasal dari pola makan dan pola hidup yg tidak sehat. Karenanya, kesadaran untuk menjaga pola makan dan hidup serta mengkonsumsi nutrisi makanan spt Tianshi menjadi sangat penting demi menjaga stamina dan kesehatan tubuh. Baca artikel “Vitamin, siapa perlu” disini.
Jika anda memiliki pola makan dan pola hidup yg kurang seimbang dan ingin mencegah terjadinya serangan jantung serta penyakit kronis lainnya, segera kontak aku. Aku tunggu lho teleponnya.
Salam - Paulin Wijaya
PJP masih menjadi penyakit mematikan nomor satu di dunia. Namun masyarakat Indonesia yang memiliki gaya hidup pemicu PJP sepertinya mengabaikan fakta ini.
”Berdasar survei yang dilakukan Yayasan Jantung Indonesia (YJI), dari 2500 respoden yang tersebar di kota-kota besar Indonesia terbukti sudah tahu kalau PJP disebabkan oleh merokok, stres serta pola makan yang salah. Tapi mereka juga menjawab bahwa sampai sekarang belum menghentikan semua kebiasaan buruk itu,” papar H. Masino, direktur eksekutif YJI kepada pers dalam sebuah workshop tentang jantung Rabu (14/8) di Jakarta.
Menurut Dr.Aulia Sani, Sp.JP, direktur utama Pusat Jantung Nasional Harapan Kita (PJNHK), penurunan mortalitas akibat PJP di negara maju ini disebabkan kesadaran masyarakat yang sudah diikuti dengan perubahan pola hidup.
Faktor Risiko
Kebiasan merokok, stres, kurang olah raga, kencing manis, obesitas, hipertensi serta hiperlipidemia alias kelebihan lemak, menurut Aulia, merupakan sederetan faktor risiko yang masih bisa diubah. Ada pula beberapa faktor yang tidak bisa diubah, yakni keturunan, usia dan jenis kelamin. Yang terakhir ini Aulia menuturkan bahwa lelaki lebih berisiko terkena PJP dibanding perempuan. Faktor-faktor baru lain adalah kekurangan homosistein, munculnya lipoprotein alfa atau Lp (a) yang belakangan diketahui lebih jahat dari LDL atau kolesterol jahat. Lalu ada lagi infeksi klamidia. Semua kemunculan faktor baru ini bisa jadi akibat dari pergeseran gaya hidup manusia masa kini.
Padahal menurut Aulia, cukup dengan berhenti merokok maka risiko terkena PJP bisa menurun sampai 24,4 persen. Dan jika diikuti dengan olah raga akan bisa menurun lagi sampai 54 persen. Sayangnya kesadaran macam ini belum menyentuh masyarakat awam di Indonesia. Ini terbukti dengan jumlah perokok yang tidak pernah menurun dari tahun ke tahun.
Kebiasaan yang tidak kalah buruk selain merokok adalah pola makan. Prof.Dr.Ir.Ali Khomsan, pakar gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menyoroti bahwa pola makan orang Indonesia mempunyai pengaruh pada PJP. Kebiasaan pola makan di suatu daerah terbukti memiliki peran terhadap pada perkembangan PJP. Menurut pengamatan Ali, di daerah di mana penduduknya banyak mengonsumsi ikan seperti Maluku dan Sulawesi Utara angka penderita PJP-nya relatif rendah.
Ditambah lagi dengan merebaknya restoran fast food di banyak kota besar di Indonesia yang menyumbang peningkatan PJP. Fast food jarang menyajikan makanan berserat. Menu yang tersaji cenderung mengandung banyak garam, lemak dan kolesterol.
Mengubah Pola Makan
”Masyarakat kita lebih cepat mengadopsi fast food daripada kebiasaan pola makan sehat orang barat,” tutur Ali yang juga dosen pasca sarjana di IPB ini. ”Padahal ada kebiasaan pola makan yang cukup sehat dari orang barat, yakni mengonsumsi oat bran, sejenis gandum berserat.” Dengan mengonsumsi oat bran 50 gram saja sehari maka kolesterol total bisa turun sebanyak 19 persen dan kolesterol LDL turun sebanyak 23 persen. Sayangnya masyarakat justru merasa tidak puas apabila hanya mengonsumsi sereal. Ali juga menyitir peribahasa barat yang berbunyi ”Eat an apple a day keeps the doctor away”. Menurutnya peribahasa ini ada benarnya sebab dalam kulit apel terdapat pektin, zat yang bisa menurunkan kadar kolesterol.”Tapi orang Indonesia justru punya kebiasaan mengupas apel sebelum dimakan,” ujar Ali. (mer)
Sumber: Sinar Harapan Online








Wah ngeri juga ya.
Comment by alexa — February 23, 2006 @ 4:07 am
sebaiknya jantung itu di copot agar tidak membahayakan sang perokok.Jika perokok memiliki jantung maka ia akan takut untukmerokok.
Comment by iman — April 2, 2007 @ 6:10 am