Bbrp hari yang lalu, aku menerima sebuah email dari mba Lili (bukan nama sebenarnya) di Jakarta. Mba Lili baru berusia 18 tahun dan sejak 3 minggu yang lalu menyadari klu dia menderita Kanker Payudara.

“Saat ini saya bingung dan pusing sekali karna gak ada satu orangpun yang tau. Saya gak mau ngasih tau keluarga saya karna saya gak mau bikin mereka tambah pusing. Saya tidak mau menambah beban mereka apalagi tahun ini saya mau masuk kuliah dan perlu banyak biaya.”

Begitulah yg disampaikan mba Lili kepadaku. Akupun membalas email mba Lili. Aku mencoba meyakinkannya untuk segera memberitahu keluarga. Kanker Payudara adalah penyakit serius dan harus mendapat perawatan segera. Akupun katakan klu aku siap membantu terapi Tianshi, kebetulan aku sendiri sedang men terapi seorang ibu yang juga mengidap kanker payudara. Baca kesaksiannya disini!

Sehari kemudian, aku mendapat balasan dari mba Lili:

Terima kasih bu sudah membalas email saya. Saya seneng bgt karena akhirnya ada orang yg tau saya sakit. It makes me more strong. Tapi maaf banget bu Paulin, saya ga bisa ikutan. Selain jarak yg jauh, saya ga punya banyak uang dan saya ga mungkin ngasih tau keluarga saya klu saya kanker. Tapi saya percaya Tuhan Yesus pasti buka jalan. Dengan ibu membalas email saya, ibu [telah] menguatkan saya. Ibu Paulin jadi satu malaikat yg menguatkan saya, walau kita blom pernah ktemu. Saya senang bisa kenal ibu Paulin.

Terima kasih, semoga Tuhan Yesus slalu memberkati ibu dan keluarga. Keep up ur good work. Jesus Bless You!

Love - Lili

Aku sedih. Klu saja aku dapat berbuat lebih banyak untuk meyakinkannya. Seharian aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, Tianshi mahal? Relatif tentunya! Atau mungkin persoalannya bukan Tianshi mahal atau tidak melainkan bagaimana mendapatkan biaya untuk membeli Tianshi. Aku jadi ingin bertutur cerita ttg pengalamanku sendiri. Read on…

Pertama kali aku mengenal Tianshi (baca ceritanya disini), aku tidak serta merta bergabung. Keberatanku karena Tianshi adalah sebuah bisnis jaringan (MLM) dan produknya mahal menurutku. Tetapi aku tidak punya banyak pilihan. Operasi bedah syaraf hampir tidak mungkin. Selain biayanya sangat mahal, juga beresiko tinggi. Akhirnya aku mencoba Tianshi, paling tidak ada harapan untuk sembuh. “Banyak kesaksian luar biasa ttg Tianshi,” begitu kata uplineku mencoba meyakinkan.

Aku lantas bergabung dgn Tianshi. Kenapa? Karena menjadi anggota artinya mendapat 15% diskon. Sangat membantulah untuk kondisi keuanganku yang lagi pas-pasan saat itu, apalagi aku baru saja kehilangan pekerjaan akibat PHK. Segeralah setelah bergabung, aku membeli bbrp botol herbal Tianshi. Aku lgsg mengkonsumsi dan khasiatnya lgsg terasa. Dalam proses penyembuhanku, aku dihadapi pada persoalan ini: Bagaimana agar aku dapat terus membeli Tianshi? Kenapa tidak sekalian menjalankan peluang usaha Tianshi? Aku menjadi semakin mantap menjalankan Tianshi. Paling tidak aku punya 2 “modal,” yaitu aku ingin sembuh dan tekat kuat untuk mendapatkan biaya demi kesembuhanku itu. Walau tidak punya banyak uang dan tidak didukung oleh Agung, suamiku, aku akhirnya menjalankan Tianshi.

Kesana-kemari aku menceritakan Tianshi kepada sahabat-sahabatku serta keluargaku sendiri. Mereka yg tertarik akhirnya membeli Tianshi dan aku mendapat bonus. Bonus tsb aku pakai untuk membeli Tianshi untuk proses kesembuhanku. Puji Tuhan, usahaku, sedikit demi sedikit, membuahkan hasil. Aku sembuh berkat produk Tianshi dan bonus yg aku dapatkan. Makin mantaplah kiprahku di bisnis jaringan Tianshi. Semoga suatu saat nanti, aku memiliki kebebasan yg sesungguhnya.

Tianshi mahal? Kembali pada pertanyaan pokok diatas, dari pengalamanku sendiri, aku ketemu jawabannya. TIDAK! Karena Tianshi tidak hanya menyehatkan kita tetapi memampukan (”empower”) kita untuk hidup sehat dan sejahtera. Modal yang anda harus miliki adalah IMPIAN dan tekat KERJA KERAS.

Tuhan pasti buka jalan… tetapi kita dituntut untuk berdoa dan bekerja (”Ora et Labora”)!

Go Freedom - Paulin Wijaya