Entah kenapa, Sabtu (27/5) dini hari itu, pukul 03.00, aku terjaga dari tidurku. Tidak ada perasaan apa-apa hanya rasa mengantukku saja yang tiba-tiba hilang. Aku ingin keluar rumah tetapi kuurungkan niatku karena masih gelap. Akhirnya aku berdiam diri saja.
Kira-kira jam 04.30, aku mulai merasa mengantuk tetapi itu tidak lama. Tiba-tiba rumah bergoyang. Bunyi gredek-gredek membuatku sangat ketakutan. Tempat tidur yang bergoyang langsung membangunkan mas Agung yang berada disampingku. Dia langsung berlari menuju kamar Michele (7 tahun), anak perempuan kami. Masih memegang selimut, aku berlari ke ruang tengah. Namun sial, tembok pembatas ruangan jatuh dan menimpa kakiku. Masih untung tidak menimpa kepalaku.
Aku berlari menuju pintu belakang. Setiap malam, sebelum tidur, mas Agung yang selalu mengunci pintu belakang. Kuncinya lalu dicabut dari pintu dan diumpetin. Aku lalu berteriak, “kunci… kunci…” Mungkin panik, mas Agung malah lupa kuncinya dimana. Gak sabaran, aku tendang pintunya 2 kali keras-keras. Apes. Bukannya pintu terbuka, malah kakiku bertambah sakit setelah ditimpa tembok yang roboh. Mas Agung akhirnya nemu kuncinya dan lekas-lekas membuka pintu. Kami langsung berlari keluar rumah. Aku berlari ke kamar Jojo, anak laki-laki kami, dikamar belakang. Aneh bin ajaib, dia masih saja tidur nyenyak.
Dihalaman belakang rumah, kami saksikan tembok pagar pada roboh. Benar-benar menakutkan. 1/2 jam kemudian, setelah tidak berasa goncangan lagi, kami masuk kedalam rumah. Ya ampun… hampir semua barang-barang dalam rumah jatuh kelantai. Piring, gelas, rak buku bahkan motor Jojo jatuh. Aku masuk ke kamar tidur. Teryata temboknya sudah roboh. Eternit di 4 pejuru retak. Konstruksi rumah kami doyong (miring) ke kiri. Benar-benar tidak layak ditinggali lagi. Akhirnya kamipun mulai berusaha menyelamatkan barang-barang yang tersisa.
Kira-kira jam 8.30 pagi, dari luar rumah, kami mendengar orang teriak, “air…air…air… tsunami…” Kami berhamburan keluar. Dijalan raya sudah padat dengan orang. Ribuan. Ada yang hanya memakai handuk, ada yang menangis. Mereka tampak sangat ketakutan. Saat itu aku masih bisa tenang karena pikirku tidak mungkin ada tsunami. Rumah kami dari pantai Parang Tritis berjarah 35KM. Tetapi mas Agung tampak panik dan memaksaku untuk lari mengikuti orang-orang di jalanan. Aku yang tadi gak mau, takut rumah kosong, akhirnya ikutan lari. Tidak berapa lama, ada pengumuman bahwa isu tsunami tidak benar.
Kami lantas kembali ke rumah. Aku mencoba menghubungi orang tuaku di Kupang serta saudara-saudaraku di Jakarta. Tetapi hubungan selular sudah terputus. Sambungan telepon rumah juga sama saja.
Didalam rumah kami terus berusaha menyelamatkan barang-barang yang bisa diselamatkan. Saat itu sering ada Gempa susulan. Walau kecil, setiap ada gempa, kami berlari keluar rumah.
Malam itu kami ngungsi ke rumah mertua yang jaraknya tidak jauh dari rumah kami. Karena takut gempa susulan, kami akhirnya menggelar tikar dijalan raya depan rumah. Tidur beratapkan langit. Tapi sial, jam 01.30, hujan deras. Kami akhirnya duduk-duduk saja diteras rumah sampai pagi hari karena masih belum berani masuk rumah.
Gitu deh pengalamanku saat gempa itu datang. Kondisi kami sekarang ini sudah lebih baik, walau 4 hari ini hanya makan super mie. Hari ini aku senang sekali karena bisa online, ha3.
Dengan musibah ini, semangat kami meraih freedom lebih membara lagi. Tidak ada waktu untuk berleha-leha. Harapan akan hari esok yang lebih baik adalah modal utama kami. “Ia jadikan segala sesuatunya indah pada waktunya.” (Pengkhotbah 3:11). Amin.
GO FREEDOOOOMM…






