Jangan Remehkan Radang Gusi dan Sariawan!
Tanpa disadari, sebagian orang kadang menganggap “enteng” sariawan dan penyakit rongga mulut lain, seperti bau napas tak sedap hingga gusi berdarah dan gigi ompong.
Penelitian terakhir menunjukkan adanya kaitan erat antara bertumpuknya bakteri di rongga mulut dengan penyakit berat lain, seperti diabetes, serangan jantung, infeksi darah, hingga soal bayi dengan berat tidak memadai…
Radang gusi diakui menjadi faktor utama kasus gigi tanggal dan kerusakan jaringan penyangga gigi. Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC) memperkirakan 30 persen warga AS mengidap radang gusi pada tingkat periodontitis, sedangkan satu dari lima orang menderita sariawan atau radang gusi ringan.
Tidak mengherankan jika pada tahun 2005 sebanyak 500 juta warga AS rutin ke dokter gigi. Berarti, diperlukan dana sekitar 84 miliar dollar AS setahun. Itu menurut perkiraan Asosiasi Dental Amerika (ADA). Lebih dari itu, setiap tahun, sebanyak 28.000 warga AS terkena kanker mulut dan tenggorokan. Sekitar 7.200 di antaranya meninggal dunia.
Masalah itu mengusik Dr Jean Connor, ahli kesehatan gigi dari Cambridge, Massachusettes, yang baru terpilih sebagai Ketua Asosiasi Kesehatan Gigi AS. Menurut dia, radang gusi dicurigai memberi kontribusi cukup signifikan pada “rusaknya” kondisi kesehatan keseluruhan melalui aliran darah.
“Jadi, jika jari Anda infeksi dan Anda diamkan saja, lama-lama (infeksi itu) akan berpengaruh ke seluruh tubuh. Begitu juga dengan mulut,” kata Dr Connor kepada media kesehatan Health Day, Sabtu (14/10). “Penyakit gusi atau rongga mulut memproduksi bakteri yang luar biasa banyak. Jadi, jika ada masalah di katup jantung Anda, bakteri-bakteri itu akan menyerbu dan menyebabkan infeksi jantung,” katanya.
Meningkat
Penelitian terakhir CDC menunjukkan, risiko serangan jantung dan stroke meningkat pada penderita radang gusi dan rongga mulut, dengan tingkat keakutanyang berbeda.Selain itu, kaitan antara penyakit gusi dan diabetes pun semakin nyata. Umumnya penderita diabetes terjangkit radang gusi pada tingkat yang lebih tinggi, yaitu periodontal. Karena itu, CDC sedang meneliti kemungkinan adanya timbal balik dari kasus ini. Artinya, sedang dicari kemungkinan merawat penderita diabetes dengan lebih mengendalikan radang gusi.
Pendapat itu diperkuat Dr Diann Bomkamp, ahli kesehatan gigi dari St Louis, AS, yang juga Wakil Ketua Asosiasi Kesehatan Gigi AS. Infeksi darah yang disebabkan oleh radang gusi bisa pula menyebabkan kegagalan operasi “penggabungan”. Dalam arti, infeksi darah akan memperkuat upaya tubuh untuk menolak penggabungan implan artifisial.
Ia menekankan, wanita yang bermasalah dengan radang gusi dua kali lebih besar kemungkinannya melahirkan bayi prematur. Khususnya, dari kasus kurang berat badan hingga bayi terinfeksi. “Jika Anda kebetulan sedang hamil dan menderita radang gusi, ada kemungkinan kehamilan dan kelahiran bayi Anda nanti bermasalah,” ujarnya.
Sariawan oleh banyak orang dikenal sebagai luka pada selaput lendir di daerah mulut. Umumnya luka di daerah mulut tidaklah dalam. Jika tidak dibarengi dengan komplikasi karena infeksi oleh kuman yang lebih ganas, sariawan akan sembuh sendiritanpa bekas(Kompas 5 Juni 1994). Infeksi ini biasanya dimulai dengan munculnya gelembung berisi cairan di mulut. Gelembung ini bisa pecah dan membentuk luka yang akan terasa nyeri.
Pada kasus tertentu, sariawan bisa pula dianggap sebagai salah satu indikasi kanker mulut, sejauh tidak pernah sembuh dan tidak pernah hilangdari mulut(Kompas 21 November 2004). Walau begitu, kepastian itu bergantung pada hasil biopsi yang dilakukan para dokter.
Penuh bakteri
Data di Institut Kesehatan Nasional AS menunjukkan, penyakit radang gusi dipicu oleh bertumpuknya bakteri di mulut akibat terabaikannya kesehatan dan kebersihan mulut. Bersama dengan lendir dan partikel lain, bakteri-bakteri ini terus membentuk plak yang lengket dan tidak berwarna di seputar gigi. Jika tidak dibersihkan secara rutin, plak ini lama-lama akan berkembang menjadi “tartar” yang tidak akan hilang hanya dengan gosok gigi.
Semakin lama plak dan “tartar” bersemayam di gigi, bakteri-bakteri itu akan menyebabkan radang gusi ringan yang disebut ginggivitis. Gusi akan berwarna kemerahan, bengkak, dan mudah berdarah, tetapi tidak merusak tulang gigi atau jaringan penyangga gigi. Pada tingkat ini, pengobatan cukup dengan dibersihkan secara teratur dan menyeluruh.
Walau begitu, jika dibiarkan, radang ringan ini bisa berkembang menjadi “periodontitis”. Artinya, radang di sekitar gigi. Pada tahap ini gusi terkelupas dari gigi dan membentuk kantung infeksi. Akibatnya, sistem kekebalan tubuh harus berjuang keras melawan para bakteri busuk seiring meluas dan tumbuhnya plak di sekitar gusi.
Toksin bakteri dan enzim tubuh akan terus berusaha menghambat infeksi yang sebenarnya sudah mulai menghancurkan tulang dan jaringan penyangga gigi. Jika tidak segera diatasi, tulang gigi, gusi, dan jaringan penyangga gigi akan hancur. Gigi-gigi pun akan segera tanggal atau harus dicabut.
Radang gusi biasanya baru muncul pada usia 30-an hingga 40-an tahun. Umumnya radang gusi pada tingkat periodontitis lebih banyak menyerang kaum pria. Meski remaja jarang terkena radang gusi, banyak pula yang menderita ginggivitis.
Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan radang gusi. Antara lain, rokok, perubahan hormon pada wanita, diabetes, stres, kanker, AIDS, faktor genetika, kurang gizi, dan obat. Beberapa obat, seperti antidepresan dan sebagian obat jantung, bisa menyebabkan radang gusi karena mengurangi aliran air liur yang sebenarnya memiliki efek protektif pada gigi dan gusi. Nah!
Air soda dan sikat gigi
Selain faktor cukup berat seperti stres, perubahan hormon, diabetes, dan genetika, radang gusi bisa terjadi oleh sebab ringan, seperti makanan manis, air soda, dan tembakau. Dan tak ada cara lain yang lebih jitu untuk menyelesaikan kasus radang gusi dan sariawan, kecuali menyikat gigi secara benar, rutin, dan menyeluruh….
Karena itu, tidak ada cara lebih baik kecuali mencegah terjadinya sariawan atau radang gusi. Setidaknya itu saran dari Dr Diann Bomkamp, pakar kesehatan gigi dari St Louis, AS. Pencegahan harus segera dilakukan ketika seseorang mendapati gusinya berwarna kemerahan, bengkak, dan terasa sedikit lunak. Hal itu ditambah dengan gigi yang mulai terasa ngilu, bau mulut yang tak sedap, serta gusi mudah berdarah ketika disikat.
Menurut Bomkamp, merawat dan membersihkan gigi secara teratur dan benar harus diimbangi dengan menghindari atau membatasi konsumsi makanan manis dan air soda. “Kami sering melihat orang yang mengonsumsi minuman ringan atau air soda sebagai sarapan pagi, kemudian meminumnya sepanjang hari. Meski ’diet soda’, soda tetap saja mengandung asam yang bisa merusak gigi dan gusi,” kata Bomkamp.
Mengutip data dari CDC, ia menekankan pentingnya setiap orang membatasi jumlah asupan makanan manis. “Mereka juga harus terus ingat bahwa rekomendasi lima hari untuk buah dan sayur yang mengandung serat tinggi juga sangat baik bagi kesehatan mulut dan gigi. Menurut dia, mengonsumsi buah dan sayur berserat tinggi akan memperlancar peredaran air liur. Akibatnya, remineralisasi permukaan gigi akan sangat terbantu sehingga bisa mencegah pengeroposan awal gigi.”
Lebih dari itu, Bomkamp dengan tegas menekankan pentingnya orangtua tidak berbagi minuman dengan anak kecil, terutama jika si orangtua menderita radang gusi. “Bahkan, ketika kita meniup makanan agar cepat dingin di depan si kecil, itu bisa menyalurkan bakteri mulut orangtua kepada anak,” ujarnya.
Hal lain yang harus dihindari, lanjut Bomkamp, adalah tembakau. “Perokok tujuh kali lebih besar kemungkinannya terkena radang gusi ringan hingga periodontitis,” katanya. “Menghindari tembakau adalah jalan terbaik,” ujar Bomkamp.
Selain faktor diet seperti anjuran Bomkamp serta pengobatan melalui medis, beberapa pihak menggarisbawahi pentingnya sistem pengobatan herbal. Dalam catatan Kompas, ada beberapa jenis tanaman dan dedaunan di Indonesia yang umum digunakan untuk mengatasi sariawan atau radang gusi tersebut, misalnya daun sirih (Piper betle), daun saga telik (Abrus precatorius), jambu mede (Anacardium occidentale), mentimun (Cucumis sativus), dan nira aren (Arenga pinnata Mer).
Walau begitu, sikat gigi tetap menjadi unsur terpenting. Dalam arti, menggosok gigi cukup dua kali sehari karena menggosok gigi terlalu sering justru akan merusak email gigi. Disarankan pula menggunakan sikat gigi berbulu halus dan menggosok gigi secara hati-hati, tidak serampangan dan singkat.
Selain itu, gunakan sikat yang sesuai dengan ukuran mulut sehingga memungkinkan pembersihan hingga ke seluruh sudut mulut dan gigi. Selamat mencoba!
Penulis: Rien Kuntari - Kompas.Com







Saya selalu menderita sariawan dengan gejala tibmul banyak bercak putih sisekitar mulut dan lidah, keadaan ini akan muncul bila saya sedang stress dengan beban kerja, terlambat makan. saya selalu membersihkan ulut 2 kali sehari. Apakah sariawan saya termasuk dengan penyebab dari jamur. Pengobatan selam ini adalah : micostatin, prasetamol kalau mulai kambuh, alborthil dikumul, daun sirih dikumur, vitamin c 2 x 50 mg, X-C 500 mg. Thank
Comment by Ludger S — December 8, 2006 @ 4:18 am
saya selalu mengeluarkan darah dari gusi saya, dan saya selalu merasa kepala saya pusing di tmabah konsentrasi belajar saya menurun ,tolong solusinya
Comment by linda — December 29, 2006 @ 7:47 am
saya selalu mengalami masalah dengan ba mulut
sudah saya lakkan berbagai cara untuk menghilangkannya tetapi susah sikat gigi,memakan permen mint tetap saja selalu ada
tolong solusimya terima kasih
Comment by achi — January 10, 2007 @ 6:06 am
saya sudah melakukan sikat gigi minimal 2 kali sehari, tetapi saya sering merasakan adanya bau mulut. Apa yang harus saya lakukan?
Comment by Akhmad Subagiyono — January 23, 2007 @ 2:39 am
saya sering sariawan, padahal saya rajin makan sayuran dan buah2an. apakah itu termasuk gejala suatu penyakit ? sedangkan suami saya sering radang tenggorokan dan merasa di tenggorokan nya selalu berdahak, apakah itu juga termasuk gejala suatu penyakit ? tolong infonya
Comment by tania — January 29, 2007 @ 6:43 am
Menjaga dan merawat kesehatan gigi dan gusi adalah solusi dari semua keluhan-keluhan mulut anda. Tetapi saya butuh trik dan tips yang dimakan dan dikomsumsi tapi tanpa efek samping.
Comment by Riyanto — February 15, 2007 @ 7:56 am
sariawan bisa dikatakan penyakit bulanan bagi saya. dulu saya tdk terlalu memperhatikannya. tapi stlh saya amati, sariawan saya itu kemunculannya berpola. setiap kali saya mau kedatangan “tamu bulanan”, sariawan itu muncul. apalagi setelah saya operasi gigi geraham paling belakang yg tumbuh miring, setiap kali saya sariawan di sekitar daerah itu, gusi saya ikut bengkak. tolong informasi tentang penyembuhan dan pencegahannya. terima kasih
Comment by yusnita — February 19, 2007 @ 7:28 am
Faktor-fator yang mempengaruhi sariawan, yaitu, tubuh kekurangan zat besi, vitamin B12, vitamin C, kelainan hormonal, stres, kegemaran mengkonsumsi makanan yang pedas atau makanan dalam keadaan panas atau terlalu dingin, konsumsi alkohol dan lain-lain.
Kiat mencegah dan mengatasi sariawan adalah mengkonsumsi makanan bergizi seimbang, bervariasi, dan teratur. Selain itu, hindari dan batasi pengkonsumsian makanan yang terlalu pedas, terlalu panas atau terlalu dingin. Membatasi pengkonsumsian daging kambing. Konsumsikan sayuran atau buah-buahan yang mengandung vitamin terutama vitamin C, B12, mengandung zat besi, dan lain-lain.
Hal lainnya adalah konsumsi bahan makanan yang mengandung zat besi, konsumsi sayur-sayuran berwarna hijau, hindari pengkonsumsian alkohol, menjaga kebersihan mulut dan gigi dan lain-lain.
Terapi alamiah dengan tanaman obat untuk mengatasi sariawan, antara lain, gunakan 20 Lembar daun sirih segar direbus dengan air secukupnya, kemudian air rebusannya diminum selagi hangat.
Cara lain adalah gunakan 30 Gram daun ketepeng China direbus dengan 400 cc air hingga tersisa 200 cc, kemudian airnya diminum selagi hangat.
Atau dengan mengkonsumsi 3 jari asam jawa (dibuang bijinya) dan gula merah secukupnya direbus dengan air secukupnya hingga tersisa 200 cc, disaring dan diminum selagi hangat.
Upaya lain yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan 2-3 butir kiam boi/sun boi (dibuang bijinya), dan 200 gram pepaya matang dijus tambahkan air secukupnya, dan madu secukupnya lalu diminum. Lakukan 2 kali sehari.
Bisa juga dengan mengkonsumsi sekitar 15 gram kunyit dijus, dicampur dengan 200 cc jus jeruk, dan diminum. Atau 30 Gram daun lidah buaya yang telah dikupas kulitnya dijus, tambahkan madu secukupnya dan diminum.
Cara lain adalah rajin mengkonsumsi 1-3 buah kiwi setiap hari. Banyak minum air putih.
Comment by yoyok sutaryono — February 20, 2007 @ 6:01 am
Penting sekali untuk diperhatikan: bahwa kondisi gusi yang jelek, radang, ada kantung gusi, banyak karang gigi justru akan memperburuk kadar gula darag penderita DM. Hal ini dimungkinkan karean infeksi bakteri yang terdapat di dalam kantung gusi akan memicu (secara alamiah) tubuh untuk merespon dengan meningkatnya sel-sel radang di daerah gusi. Bersamaan dengan itu akan dikeluarkan pula sitokin pro inflamas, antara lain, TNF alfa yang sangat potensial menyebabkan peningkatan reistensi insulin sehingga kadar glukosa darah peasien meningkat. Dengan demikian, penting sekali menjaga kondisi gusi dan jaringan pendukung gigi terutama bagi pengidap diabetes. Saya sudah menulis artikel di beberapa koran mengenai hal ini, antara lain, REPUBLIKA dan KEDAULATAN RAKYAT. Jika membutuhkan info untuk share silahkan ke emial kami.
Comment by ahmad syaify — March 10, 2007 @ 6:29 am
It’s ok your artikel, but in my opinion it’s very expensive to dental maintenance in Indonesia. Because in Indonesia many poor people,so only think about food and food
Comment by Ana — March 14, 2007 @ 1:11 am
apa depenisi dari radang gusi menurut beberapa parah ahlinya?
Comment by adedtsyah — February 12, 2008 @ 3:35 pm
saya mengalami kesulitan untuk membuat karya tulis ilmia tanetang radang gusi,jadi tolong lampirkan artikel dari pengertian,penyebabnya,prevalensinya dan penulinsya,serta ertikil Beford,1996 dan malkon dkk,1994.
Comment by adedtsyah — February 12, 2008 @ 3:42 pm