Orang Indonesia memiliki potensi yang cukup besar tetapi kelemahannya kebanyakan orang Indonesia mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.

sh.com - Ichiro Suganuma dilahirkan di Tokyo 1960 dan merupakan lulusan Universitas Keiho (Tokyo) program studi Sistem Moneter Internasional. Pertama kali bergabung dengan perusahaan Panasonic tahun 1984 dan bertanggung jawab pada penjualan mesin pendingin (AC) ke luar Jepang.

Tahun 1985 ia dikirim ke Indonesia untuk belajar mengenai pasar, budaya dan bahasa Indonesia di Universitas Indonesia (UI). “Saya belajar selama 1 tahun di UI, satu semester di Fakultas Sastra dan satu semester di Fakultas Ekonomi,” kata Ichiro. Hal inilah yang menyebabkan ia tergolong lancar berbahasa Indonesia karena memang sudah sejak lama belajar mengenai Indonesia.

Setelah itu Ichiro bergabung di bagian penjualan Gobel Panasonic Indonesia selama 1 tahun, sebelum akhirnya kembali ke tanah airnya. Di Jepang ia lalu ditunjuk sebagai manajer pemasaran internasional. Pekerjaannya ini membawanya mengelilingi lebih dari 80 negara di dunia.

Selama periode krisis ekonomi melanda Asia, ia tinggal di Malaysia dan memutuskan kembali lagi ke Jepang tahun 1999. Setelah perekonomian Asia kembali menunjukkan pertumbuhan maka ia langsung dikirim ke Indonesia dan bertanggung jawab di bagian penjualan.

“Sejak awal saya sangat tertarik dengan Indonesia karena kondisi alamnya sangat indah dan negerinya sangat luas,” ujarnya. Ia sangat senang dengan kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia karena mencintai budaya setempat akan mempermudah dalam mempelajari bahasanya. “Walaupun belajar selama kurang dari 2 tahun saya dengan cepat mengerti bahasa Indonesia karena saya tidak saja mempelajari bahasanya saja tetapi juga budaya, sejarah dan karakteristik orang-orang Indonesia,” papar Ichiro.
Di samping itu, karena staf dan koleganya mayoritas orang Indonesia maka dengan sendirinya bahasa Indonesianya sering dipraktekkan. Setiap hari ia menggunakan bahasa Indonesia ketika berkomunikasi dengan staf dan koleganya.

Ia memiliki kesan tersendiri tentang karyawannya. Menurutnya, orang Indonesia memiliki potensi yang cukup besar tetapi kelemahannya kebanyakan orang Indonesia mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Hal ini berbeda dengan orang Jepang yang lebih gigih karena tidak memiliki kekayaan alam untuk menopang perekonomian. “Semangat orang Indonesia memang ada tetapi hanya sedikit orang yang mau terus berjuang ketika timbul kesulitan,” kata Ichiro.

Moto dan Visi

Untuk meraih tujuan ke depan dengan bangga ia menunjukkan moto Panasonic Gobel Indonesia dalam mengembangkan bisnisnya yakni maju bersatu untuk mencapai tujuan yang satu. Moto perusahaan tersebut juga menjadi pemacu semangat agar teus meningkatkan kinerja baik bawahannya maupun dirinya sendiri.“Tanpa suatu visi dan moto yang jelas kita tidak mempunyai arah dalam melangkah di masa depan,” tandasnya.

Di sela-sela kesibukannya ia masih menyempatkan diri bermain golf dan olah raga sky-diving. “Olah raga favorit saya di Indonesia adalah bermain sky-diving di Bali dan Lombok,” katanya. Ia bisa menghabiskan waktu 2-3 hari bermain sky-diving ketika masa libur bersama teman-teman kerjanya.

Meskipun sudah lama tinggal di Indonesia namun ia mengaku minimal 4 kali setahun, ia kembali ke Jepang baik untuk kepentingan bisnis maupun urusan keluarga. Istri dan anak-anaknya tidak ikut ke Indonesia tetapi tetap tinggal di Jepang. “Anak saya akan lebih mendapatkan pendidikan yang tepat dengan tinggal di Jepang karena bagaimanapun pendidikan anak sangat penting bagi masa depannya,” katanya.

Ia mengaku ada dua orang yang sangat berpengaruh dalam hidupnya yakni Matsushita yang adalah pendiri Matsushita Electric, dan ayahnya yang mendidiknya dengan disiplin sehingga ia bisa menjadi seperti sekarang. “Saya sangat berterima kasih kepada ayah saya karena sejak kecil telah mendidik hidup berdisiplin, kerja keras dan pantang menyerah,” tegasnya. Harapannya, Panasonic Gobel Indonesia (PGI) akan menjadi perusahaan yang disegani dan dikenal luas di seluruh Indonesia. (swo/dan)