Orang tidak hanya harus pintar sekolah dan pintar kerja, tapi juga harus pintar hidup.
Semua orang ingin sukses. Baik sebagai pekerja maupun pengusaha. Namun, banyak orang yang mempunyai persepsi tidak tepat mengenai arti sukses. Mereka ingin bisa meraih sukses dalam waktu singkat (instan). Hal itu tidak sesuai dengan filosofi kesuksesan itu sendiri. Seorang penjahit yang sukses berkata, ‘’Saya telah meraih posisi seperti sekarang ini dengan menaiki anak tangga dan bukan dengan lift.'’
Hal senada dinyatakan oleh Presiden Direktur WOM Finance, Benny Wenas. Menurutnya, tidak ada sukses yang instan. Sukses itu memerlukan proses. ‘’Sukses itu akan datang kepada orang yang siap untuk menerimanya. Dan hal itu memerlukan waktu dan berbagai persiapan,'’ tandas Benny Wenas saat berbagi tentang manajemen di Jakarta pekan lalu.
Ia menyebutkan, selama ini, orang (mahasiswa dan sarjana) diajari hard skill, tapi soft skill kurang. Mereka pintar, nilai akademiknya tinggi, tapi kemampuan membina human relations, misalnya, sangat rendah. ‘’Padahal, orang tidak hanya harus pintar sekolah dan pintar kerja, tapi juga harus pintar hidup. Tidak hanya harus punya hard skill, tapi juga soft skill. Hanya orang-orang yang mempunyai hard skill dan soft skill sekaligus, yang akan bisa merengkuh sukses yang berkelanjutan,'’ tegasnya.
Berkompetisi
Untuk merebut sukses, seseorang harus selalu mau berkompetisi. ‘’Paling tidak, kita harus bersaing dengan diri sendiri, bahwa hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini,'’ tandasnya. Reza M. Syarief dalam bukunya, Life Excellent: Menuju Hidup lebih Baik, menekankan pentingnya berkompetisi dengan diri sendiri. Ia mengutip hadits Rasulullah saw yang artinya, ‘’Barangsiapa yang hari ini lebih baik dibandingkan yang terdahulu, maka ia termasuk orang sukses.
Barangsiapa yang hari ini sama seperti yang terdahulu, maka dia termasuk orang yang tertipu. Barangsiapa yang hari ini lebih buruk dibandingkan yang terdahulu, maka dia termasuk orang-orang yang merugi di hadapan Allah SWT.'’
‘’Jadi, orang yang sukses adalah today is better than yesterday. Hari ini lebih baik dibandingkan yang terdahulu, dan tentu saja tomorrow will be better than today, hari esok akan lebih baik dibandingkan hari ini,'’ tandas Reza.
Benny mengemukakan, dengan berkompetisi kita akan bisa meningkatkan kompetensi. ‘’Kompetensi inilah yang menentukan nilai kita di hadapan orang lain. Kita harus bersaing menjadi yang terbaik. Kalau tidak mau berkompetisi, lama kelamaan kita akan habis,'’ tegas Benny Wenas.
Untuk itu, kata Benny, kita harus bersahabat dan bergaul dengan banyak orang. ‘’Kita harus memperkuat jaringan, dan bergaul dengan orang-orang yang sukses. Kalau kita bergaul dengan orang-orang yang sukses, maka kita pun akan terinspirasi dan terdorong untuk menjadi orang-orang yang sukses pula. Pergaulan itu akan membuka berbagai peluang dan kesempatan, termasuk kesempatan kerja atau berbisnis,'’ tegasnya.
Persahabatan atau jaringan merupakan salah satu kunci untuk meraih sukses. ‘’Kemampuan menjalin persahabatan merupakan salah satu poin keberhasilan yang terpenting dalam kehidupan manusia,'’ tegas Yusuf al-Uqshari dalam bukunya Menuju Puncak Prestasi tanpa Batas. Dalam bukunya yang lain, Sukses Bergaul, Yusuf al-Uqshari menegaskan, ‘’Percayalah bahwa orang yang paling mampu mempengaruhi orang lain adalah orang-orang yang mengimani pentingnya orang lain, dan melihat dalam diri mereka sebagai orang-orang yang penting, apa pun peran mereka dalam kehidupan.'’
Tiga fase
Benny menyebutkan, ada tiga fase karir dalam kehidupan seorang manusia.
Pertama, promise (mengumpulkan value dan kompetensi), misalnya sampai umur 23 tahun (selesai kuliah S-1). Kedua, menciptakan dan memanfaatkan momentum, misalnya umur 23-40 tahun. ‘’Kita harus bekerja dan terus belajar dengan sungguh-sungguh meningkatkan nilai kita. Pembinaan hari ini menentukan hari esok. Yang bisa kita bina adalah hari ini, bukan hari esok. Value ini yang harus kita kembangkan,'’ tegasnya.
Benny, mengingatkan, jangan pernah berhenti belajar. Begitu seseorang berhenti belajar, maka nilai pengalaman (kompetensinya) akan turun. Bekerja adalah mengumpulkan pengalaman dan kompetensi sebanyak mungkin dan sebaik mungkin. Ia menambahkan, 10-12 tahun pertama bekerja adalah mengumpulkan kompetensi dan menciptakan momentum (misal momentum utnuk pindah kerja, jadi direktur, atau jadi shareholder perusahaan). ‘’Setiap orang punya kesempatan dan momentum untuk sukses. Yan penting harus menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Harus belajar terus. Caranya dengan banyak membaca, meningkatkan pendidikan, dan bergaul dengan orang-orang sukses,'’ tuturnya.
Momentum bisa diciptakan dan harus dijaga. ‘’Jaga kepercayaan. Jangan sekali-kali menyalahgunakan kesempatan,'’ tegas Benny. Untuk bisa mendapatkan dan menjaga momentum, jadilah orang yang bisa diandalkan. Benny menyebut, ada empat pilar untuk menjadi orang yang bisa diandalkan. Pertama, responsibility, tangung jawab. Kedua, accountability, bisa dipercaya, misalnya menjaga uang, dan jangan korupsi. Ketiga, authority, otoritas jangan disalahgunakan. Keempat, fairness, adil, termasuk dalam pembagian keuntungan usaha/dividen. Apakah sukses itu berkait dengan faktor keberuntungan? ‘’Saya tidak percaya keberuntungan. Sukses itu bukan masalah keberuntungan, tapi kemampuan memanfaatkan kesempatan,'’ kata Benny Wenas.
Hal itu pun yang ditegaskan oleh Faiez H. Seyal, seorang sukses dan pemberi seminar-seminar Change Your Lens, Change Your World, ‘’Mukjizat-mukjizat tidak akan terjadi dengan sendirinya. Anda harus mewujudkannya.'’ Hal senada diungkapkan oleh Charles-Albert Poissant, penulis buku Rahasia Keberhasilan 10 Jutawan Terkemuka Dunia, ‘’Sukses tidaklah terjadi karena nasib baik semata-mata (walaupun keberuntungan acap kali memegang peranan), tetapi karena penerapan prinsip-prinsip yang sangat khas.'’
Menurut Benny Wenas, momentum itu seberapa cepat kita belajar, dan seberapa banyak menyerap kesempatan tersebut. ‘’Bekerjalah dan tunjukkan kemampuan terbaik, sehingga orang percaya kepada kita. Begitu mendapatkan kepercayaan/amanah, itulah momentum Anda. Tunjukkan hasil terbaik, bahkan lebih baik dari yang diminta, sehingga orang makin percaya kepada Anda. Bahkan orang-orang lain pun mencari Anda, karena tertarik kepada Anda. Itulah yang disebut ‘nama membuat nama’,'’ paparnya.
Bila kedua fase di atas sudah dijejak, barulah masuk ke fase ketiga, yakni harvest (memanen), misalnya umur 40 tahun ke atas. ‘’Ini adalah masa memetik hasil. Namun, ini hanya akan kita peroleh, kalau kita selalu berupaya meningkatkan kompetensi, kepercayaan dan jaringan pada fase-fase sebelumnya. Inilah yang saya katakan tadi, orang tidak hanya harus pintar sekolah dan pintar kerja, tapi juga pintar hidup. Saya lebih senang menyebutnya sebagai management by heart,'’ tutur Benny Wenas.
Sehubungan dengan masa memanen itu, menarik untuk direnungkan ungkapan Ray Kroc, pemilik McDonald’s, dalam biografinya, ‘’Orang merasa heran pada kenyataan bahwa saya tidak memulai McDonald’s sebelum saya berumur 50 tahun, dan kemudian secara mendadak saya menjadi orang yang berhasil.
Tetapi tidaklah berbeda dengan banyak orang di bidang pertunjukan yang bekerja dengan diam-diam dalam bidangnya selama bertahun-tahun, lalu tiba-tiba, muncul dan tampil besar-besaran. Kelihatannya memang sukses mendadak, tetapi 30 tahun sebelumnya adalah masa kelam yang panjang.'’
Penulis: Irwan kelana
SUMBER: REPUBLIKA







I want read this book because I like this book & it’s tell me about thing all,,,give to know me where I have to buy this book in bogor
Comment by rizky — July 5, 2007 @ 7:55 am