<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
<channel>
	<title>Comments on: Capek Deh!</title>
	<link>http://totalwellness.blogsome.com/2007/07/27/capek-deh/</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 01:14:36 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>

	<item>
		<title>by: Vitrelle</title>
		<link>http://totalwellness.blogsome.com/2007/07/27/capek-deh/#comment-506</link>
		<pubDate>Wed, 01 Aug 2007 08:05:05 +0100</pubDate>
		<guid>http://totalwellness.blogsome.com/2007/07/27/capek-deh/#comment-506</guid>
					<description>Kegagalan

Gagal itu adalah kesuksesan yang tertunda. Bagaimana mungkin seseorang dpt dikatakan sukses, jika dia blum pernah mengalami kegagalan? Mari kita lihat lebih lanjut lagi mengenai kegagalan di MLM. Kegagalan itu ada bbrp hal besar yang menjadi penyebabnya, antara lain sbb:

1. Si pelaku MLM malas dan hanya sebatas terbuai oleh mimpi2 reward saja. Pertama2 pasti semangat karena doping yg diberikan entah melalui seminar atau melalui upline yg begitu care. Namun setelah dijalani, ternyata utk mencari 1 org downline saja pun sangat sukar sekali. Akibatnya hanya akan bermimpi dan bermalas2an, dan sangat mungkin sekali pada akhirnya akan mengomel2 sendiri dan menjelek2an MLM tsb. Upline pasti akan berkata:&quot; Jangan menyerahh !! Maju terus pantang mundur..!&quot; Nah, itu benar2 komentar yg care about the downline atau care about the money that they will loose? Lalu bagaimana supaya tidak mudah menyerah dengan menggunakan logika?

2. Namun bagaimana bila si pelaku MLM sudah rajin bekerja mencari downline dan masih gagal? Penyebab kedua ialah network dari si pelaku MLM yg tidak bisa diandalkan. Misalnya: si A memiliki lingkungan pergaulan hanya sebatas ekonomi menengah ke bawah. Bagaimana mungkin mereka akan mau masuk menjadi downline si A. Utk makan sehari 3x saja masih susah? Apakah upline yang begitu meyakinkan dpt membantu permasalahan ini? Krn sehebat apapun uplinenya namun apabila memang daya beli pasarnya yg rendah, saya rasa tetap akan gagal. Bukan begitu?

3. Tidak menguasai materi / product knowledge. Utk tahu akan hal ini, pelaku MLM butuh materi yg berupa buku / seminar2. Apakah materi2 tsb sudah include biaya registrasi? ataukah setiap kli ingin menambah ilmu, harus menguras kantong dulu? Jika itu yg terjadi, mengapa tidak diantisipasi oleh manajemen MLM? atau jgn2 ada konspirasi?? Maksudnya spt ini, saya yakin dan teramat yakin kalau hasil omset distribusi MLM itu sangat besar, terbukti dari mewahnya hadiah2 &amp;amp; reward2 yang dijanjikan, akan tetapi, mengapa utk mengadakan seminar yg notabene akan menambah pengetahuan pelaku MLM, kok malah mereka disuruh bayar? Masa tidak mampu utk menyewa gedung, konsumsi dan pembicara? Rasa2nya agak2 janggal dlm hal ini?

4. Pengetahuan ttg sistem bisnis MLM yang baik dan benar. Harus jeli di dalam mempelajari sistem bisnis support yang terbaik. Di Tian Shi ada 3, Unicore, Freedom dan LNI. Ada penjelasan singkat mengenai ketiga2nya? Atau ada referensi yg bisa di-share? Terima kasih sebelumnya. Salam. </description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Kegagalan</p>
	<p>Gagal itu adalah kesuksesan yang tertunda. Bagaimana mungkin seseorang dpt dikatakan sukses, jika dia blum pernah mengalami kegagalan? Mari kita lihat lebih lanjut lagi mengenai kegagalan di MLM. Kegagalan itu ada bbrp hal besar yang menjadi penyebabnya, antara lain sbb:</p>
	<p>1. Si pelaku MLM malas dan hanya sebatas terbuai oleh mimpi2 reward saja. Pertama2 pasti semangat karena doping yg diberikan entah melalui seminar atau melalui upline yg begitu care. Namun setelah dijalani, ternyata utk mencari 1 org downline saja pun sangat sukar sekali. Akibatnya hanya akan bermimpi dan bermalas2an, dan sangat mungkin sekali pada akhirnya akan mengomel2 sendiri dan menjelek2an MLM tsb. Upline pasti akan berkata:&#8221; Jangan menyerahh !! Maju terus pantang mundur..!&#8221; Nah, itu benar2 komentar yg care about the downline atau care about the money that they will loose? Lalu bagaimana supaya tidak mudah menyerah dengan menggunakan logika?</p>
	<p>2. Namun bagaimana bila si pelaku MLM sudah rajin bekerja mencari downline dan masih gagal? Penyebab kedua ialah network dari si pelaku MLM yg tidak bisa diandalkan. Misalnya: si A memiliki lingkungan pergaulan hanya sebatas ekonomi menengah ke bawah. Bagaimana mungkin mereka akan mau masuk menjadi downline si A. Utk makan sehari 3x saja masih susah? Apakah upline yang begitu meyakinkan dpt membantu permasalahan ini? Krn sehebat apapun uplinenya namun apabila memang daya beli pasarnya yg rendah, saya rasa tetap akan gagal. Bukan begitu?</p>
	<p>3. Tidak menguasai materi / product knowledge. Utk tahu akan hal ini, pelaku MLM butuh materi yg berupa buku / seminar2. Apakah materi2 tsb sudah include biaya registrasi? ataukah setiap kli ingin menambah ilmu, harus menguras kantong dulu? Jika itu yg terjadi, mengapa tidak diantisipasi oleh manajemen MLM? atau jgn2 ada konspirasi?? Maksudnya spt ini, saya yakin dan teramat yakin kalau hasil omset distribusi MLM itu sangat besar, terbukti dari mewahnya hadiah2 &amp; reward2 yang dijanjikan, akan tetapi, mengapa utk mengadakan seminar yg notabene akan menambah pengetahuan pelaku MLM, kok malah mereka disuruh bayar? Masa tidak mampu utk menyewa gedung, konsumsi dan pembicara? Rasa2nya agak2 janggal dlm hal ini?</p>
	<p>4. Pengetahuan ttg sistem bisnis MLM yang baik dan benar. Harus jeli di dalam mempelajari sistem bisnis support yang terbaik. Di Tian Shi ada 3, Unicore, Freedom dan LNI. Ada penjelasan singkat mengenai ketiga2nya? Atau ada referensi yg bisa di-share? Terima kasih sebelumnya. Salam.
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: Eep</title>
		<link>http://totalwellness.blogsome.com/2007/07/27/capek-deh/#comment-503</link>
		<pubDate>Wed, 01 Aug 2007 02:40:18 +0100</pubDate>
		<guid>http://totalwellness.blogsome.com/2007/07/27/capek-deh/#comment-503</guid>
					<description>betul sekali bu paulin, cape deeh nanggepin Tianshi contek sana contek sini, terutama dari orang-orang Am***. coba lihat di blog saya banyak banget yang koment kayak gitu. padahal sudah jelas buku mereka copy cat marketing 101 mengajarkan untuk menyontek.. hehehehe</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>betul sekali bu paulin, cape deeh nanggepin Tianshi contek sana contek sini, terutama dari orang-orang Am***. coba lihat di blog saya banyak banget yang koment kayak gitu. padahal sudah jelas buku mereka copy cat marketing 101 mengajarkan untuk menyontek.. hehehehe
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
</channel>
</rss>
