A new comment on the post #366 “Capek Deh!” is waiting for your approval
Author : Vitrelle (IP: 202.53.230.103 , dsl-53.230-103.indo.net.id)
E-mail : vitrelle@yahoo.com
Comment: Kegagalan. Gagal itu adalah kesuksesan yang tertunda. Bagaimana mungkin seseorang [dapat] dikatakan sukses, jika dia [belum] pernah mengalami kegagalan? Mari kita lihat lebih lanjut lagi mengenai kegagalan di MLM. Kegagalan itu ada [beberapa] hal besar yang menjadi penyebabnya, antara lain sbb:

Maturnuwun mas Vitrelle (anda ini orang Italy ya?) atas komentar panjang lebar nan menarik. Perkenankan saya untuk memberi tanggapan atas poin-poin yang ditanyakan. Tapi sebelumnya, saya ingin sampaikan quote favoritku:

Great achievement is usually born of great sacrifice… Napoleon Hill

Q1. Si pelaku MLM malas dan hanya sebatas terbuai oleh [mimpi-mimpi] reward saja. Pertama pasti semangat karena doping yg diberikan entah melalui seminar atau melalui upline [yang] begitu care. Namun setelah dijalani, ternyata untuk mencari 1 orang downline saja pun sangat sukar sekali. Akibatnya hanya akan bermimpi dan [bermalas-malasan], dan sangat mungkin sekali pada akhirnya akan [mengomel] sendiri dan [menjelek-jelekan] MLM tersebut. Upline pasti akan berkata, “Jangan menyerahh! Maju terus pantang mundur!” Nah, itu benar-benar komentar yg care about the downline atau care about the money that they will loose? Lalu bagaimana supaya tidak mudah menyerah dengan menggunakan logika?

A1. Benar sekali! Kegagalan di MLM sering karena semangat “panas-panas-tahi-ayam” atas janji-janji mengiurkan seperti “Setor 2 juta sekarang maka anda akan mendapatkan mobil Mercy dalam waktu 3 bulan.” Orang waras tentu tidak akan percaya dengan janji ini. Lha kok? Tentu saja karena sukses (mendapat reward mobil Mercy) tanpa kerja keras adalah kemustahilan. Apesnya… banyak sekali manusia bermental ingin-kaya-raya-tanpa-usaha. Lantaran mobil Mercy tidak kunjung datang setelah 3 bulan, akhirnya sakit hati dan mulai mencak-mencak gak karuan. Who is to blame?

Perihal bagaimana supaya tidak mudah menyerah dengan menggunakan logika, sederhana saja kok. Mulailah dengan melihat MLM dari sudut pandang yang tepat. Buat saya MLM SAMA SAJA kok dengan profesi lain. Anda mau jadi dokter maka siap-siaplah sekolah yang lamaaaaa. Anda mau jadi astronot, harus pandai matematika, fisika. Opo meneh… Bahkan kalau anda ingin menjadi pembersih kaca gedung pencakar langit, anda harus berani ketinggian. Samimawon, di MLM, jika anda mau dapat kapal terbang, siap-siap bekerja keras untuk itu.

Mas Vitrelle, jadi mulailah memandang MLM sebagai profesi yang tidak menawarkan uang gampang tanpa ikhtiar. Itu dulu. Kalau itu sudah, maka anda akan sampai pada pemahaman berikutnya: MLM is not for everyone. Orang ber-IQ rendah tidak mungkin jadi astronot. Gak peduli seberapa care orang tua, teman, pacar atau siapa saja, orang ber-IQ jongkok tidak mungkin bekerja di N.A.S.A.

Mudah-mudahan mas Vitrelle sudah paham. Aku memakai contoh yang lumayan ekstrim agar anda terbuka pemahamannya. Pakailah logika untuk mengukur kemampuan anda. Anda bisa/cocok tidak di MLM. Kalau sudah “nyemplung” tapi tidak berhasil, tidak perlu ngambek atau mencak-mencak. Anggap saja MLM memang bukan untuk anda. Mungkin bidang lain lebih cocok. Jadi saya setuju, jangan hanya tergiur dengan janji muluk MLM. Pakailah logika! Dan mencoba! Do Your Best!

Q2. Namun bagaimana bila si pelaku MLM sudah rajin bekerja mencari downline dan masih gagal? Penyebab kedua ialah network dari si pelaku MLM [yang] tidak bisa diandalkan. Misalnya: si A memiliki lingkungan pergaulan hanya sebatas ekonomi menengah ke bawah. Bagaimana mungkin mereka akan mau masuk menjadi downline si A. [Untuk] makan sehari 3x saja masih susah? Apakah upline yang begitu meyakinkan dapat membantu permasalahan ini? Karen [sehebat] apapun uplinenya namun apabila memang daya beli pasarnya yg rendah, saya rasa tetap akan gagal. Bukan begitu?

A2. Betul sekali mas Vitrelle walau dari pengalaman saya, orang gagal sering mengungkapkan 1001 alasan kegagalannya. Kurang pergaulanlah… daya beli masyarakat rendahlah… makan 3X sehari aja susahlah… inilah… itulah… Saya memang tidak ingin tahu alasan mengapa orang lain gagal. Kembali lagi pada poin diatas, MLM is not for everyone. Hanya mereka yang punya logika, impian, semangat tinggi, sikap pantang menyerah dan sabar menjalani bisnis ini yang akan menikmati kesuksesan. Sukses yang seperti apa? Lain waktu kita diskusi tentang definisi sukses. Sekedar contoh, downline saya yang mendapat bonus 5 juta per bulan, baginya itu sebuah kesuksesan. Apa standar sukses anda?

Q3. Tidak menguasai materi / product knowledge. [Untuk] tahu akan hal ini, pelaku MLM butuh materi yg berupa buku / seminar. Apakah [materi-materi] tersebut sudah include biaya registrasi? Ataukah setiap [kalau] ingin menambah ilmu, harus menguras kantong dulu? Jika itu yg terjadi, mengapa tidak diantisipasi oleh manajemen MLM? Atau jangan-jangan ada konspirasi? Maksudnya seperti ini, saya yakin dan teramat yakin kalau hasil omset distribusi MLM itu sangat besar, terbukti dari mewahnya hadiah, reward-reward yang dijanjikan, akan tetapi, mengapa untuk mengadakan seminar yang notabene akan menambah pengetahuan pelaku MLM, kok malah mereka disuruh bayar? Masa tidak mampu untuk menyewa gedung, konsumsi dan pembicara? Rasa-rasanya agak janggal [dalam] hal ini?

A3. Saya tergelitik untuk mengulas panjang lebar poin yang disampaikan, tetapi saya sangat singkat aja. Mudah-mudahan mas Vitrelle memahaminya kemana arah penjelasan saya. “Great achievement is usually born of great sacrifice” - Napoleon Hill. OK begini ya, kalau mas Vitrelle pengen reward kapal terbang, mosok beli buku atau bayar ikut seminar yang seringkali hanya 5000 perak gak mau? Bukan “agak-agak” janggal lagi mas… tetapi sangat amat jangkal kalau mau kapal terbang tapi gak mau rugi beli buku atau ikutan seminar. Lebih janggal lagi kalau menuduh ada konspirasi. Yang bener aja massss, heh…heh…

Q4. Pengetahuan ttg sistem bisnis MLM yang baik dan benar. Harus jeli di dalam mempelajari sistem bisnis support yang terbaik. Di Tian Shi ada 3, Unicore, Freedom dan LNI. Ada penjelasan singkat mengenai ketiga2nya? Atau ada referensi yg bisa di-share? Terima kasih sebelumnya. Salam.

A4. Mas Vitrelle, namanya bukan Tian Shi tetapi TIANSHI. Saya mendapat komentar dari mas Golan yang sok tau tentang Tianshi tetapi tidak tau mengeja TIANSHI dengan bener. Anyway, tentang support system, tidak ada bedanya kok. Sama saja, pilih saja yang cocok yang mana buat anda. Saya sendiri sering mengikuti OPP LNI dan Unicore.

Go Freedom | Paulin Wijaya