By: Agung Wijaya
yawijaya05@yahoo.com

Bisnis dalam bahasa orang awam adalah berdagang. Walaupun sekarang ini bagi sebagian orang kata berdagang dianggap tidak lagi bergengsi sehingga banyak dihindari. Orang lebih mantap dan percaya diri untuk menggunakan kata bisnis yang diadopsi dari kata business.

Saya ingat semasa sekolah SMP akhir tahun 70-an, di dekat sekolah ada lokasi jual/beli barang bekas kakilima. Kondisi susah saat itu tidak memberikan kesempatan pada kami untuk membeli sepatu baru. Jadi kami sering berkunjung ke tempat itu untuk mencari sepatu bekas. Kadang-kadang kami dapat menemukan dan membeli sepatu merek Puma atau Adidas (yang lagi ngetop waktu itu) yang masih bagus dengan ukuran pas. Apabila bosan, sepatu itu kami jual kembali di tempat itu. Setiap pergi ke kakilima tersebut, kami sebut bisnis. Kalau ada teman yang perlu membeli atau menjual sepatunya, dia akan mengatakan “Pulang sekolah kita bisnis yoook…” artinya dia mengajak kita pergi ke lokasi pedagang kakilima tersebut.

Hal itu masih membekas di ingatan saya. Bukan karena kami tidak bisa membeli sepatu baru di toko. Bukan karena kami sekedar mendapat harga murah. Tetapi karena suasana keakraban yang dibangun oleh pak Aris, langganan penjual barang bekas kami. Masih terus tinggal di ingatan saya, bagaimana pak Aris selalu mengajak kami untuk duduk dan mengobrol. Seingat saya pak Aris malah tidak pernah menawarkan dagangannya. Bagaimana pak Aris selalu menyapa kami lebih dahulu dan menanyakan sekolah kami. Bbagaimana pak Aris selalu mengingatkan kami untuk tidak lupa belajar. Bagaimana pak Aris selalu menceritakan masa lalunya yang kurang beruntung. Saat itu, yang saya tahu adalah pak Aris orang yang sok akrab.

Kemudian baru saya tahu, bahwa itu adalah salah satu strategi dagangnya untuk meraih pelanggan. Sekarang saya tahu, itu bukan sekedar strategi bisnis, lebih daripada itu, itu adalah business with heart. Bagi pak Aris yang meninggal genap tiga tahun yang lalu, berdagang atau bisnis adalah jalan hidupnya. Namun dalam menjalani kehidupannya, pak Aris juga bersosialisasi. Semua yang datang ke tendanya tidak ada satupun yang diperlakukan sebagai konsumen semata, tetapi lebih daripada itu, pak Aris memperlakukannya sebagai teman, sahabat, teman baru dan sahabat baru. (Waktu itu, saya berkunjung ke tenda pak Aris lebih dari dua kali dalam seminggunya, dan tidak selalu saya membeli sesuatu. Lebih banyak hanya window shopping. Sapaan ‘apa kabar’ dan ucapan ‘hati-hati di jalan’ lebih sering kami dengar daripada ‘cari apa’ dan ‘mau beli apa’. Sebuah perlakuan yang datang dari hati yang tulus. Tanpa terasa saya menjadi pelanggannya selama bertahun-tahun, dan saya yakin saya tidak sendiri.

Bagaimana konsep ‘business with heart’ ini dapat kita terapkan pada bisnis Network Marketing (NM) kita?

Konsep ‘business with heart’ tidak semata-mata berhitung dengan untung-rugi, tidak semata-mata hubungan antara penjual dan pembeli, produsen dengan konsumen. Konsep ini mengedepankan hubungan antar manusia. Bagaimana kita memperlakukan pembeli atau konsumen bukan sebagai pihak yang akan membawa keuntungan pada kita semata. Hubungan sosial harus terbangun dalam pada itu. Konsumen yang terpuaskan secara psikologis, akan membawa balik keuntungan yang berlipat dan berkelanjutan kepada kita. Aa’ Gym bahkan pernah menegaskan bahwa bisnis NM adalah bisnis silaturahmi. Artinya, silaturahmi melekat sangat erat di di dalam bisnis NM. Tinggal kita mau menggunakannya atau tidak.

Faktanya, sudah menjadi rahasia umum adanya oknum-oknum distributor Tianshi yang memaksa prospeknya untuk menggadaikan barang-barang miliknya agar dapat mencapai jumlah pembelanjaan bintang tertentu seketika itu.

Fakta lain ditunjukkan oleh sikap seorang leader, dimana dalam membangun jaringannya leader tersebut menerapkan cara ala boss dengan karyawannya, seperti jendral dengan anak buahnya, bagaikan nyonya besar dengan babunya. Leader tersebut menjadi satu-satunya pihak yang mengijinkan dan menentukan siapa saja di jaringannya yang boleh menjadi pembicara. Suatu saat Leader tersebut mencaci maki crossline, bahkan pada sebuah leaders meeting sebuah support system, dengan meminjam kata-kata yang dipopulerkan oleh komedian Thukul Arwana, (Tak sobek-sobek mulutmu) karena perbedaan cara presentasi. Sebuah gaya kerja yang banyak kita temui pada pekerjaan-pekerjaan konvensional.

Bagaimana mungkin konsep pekerjaan konvensional digunakan di dunia NM. Bagaimana mungkin menempatkan downline sebagai anak buah atau karyawan, atau bahkan pembantu. Mungkinkah sebuah jaringan NM dapat dibangun dan dipertahankan sendirian (single fighter). Tidak tahukah leader tersebut bahwa di bisnis NM Superman is Dead.

Bisa jadi leader tersebut suatu saat mampu meraih peringkat bintang tertinggi di Tianshi, Diamond atau bahkan Direktur. Bisa jadi leader tersebut sukses di Tianshi. Masalahnya adalah, berhargakah dia untuk orang lain, bahkan untuk jaringannya sendiri.

Lain halnya dengan pak Aris yang notabene hanyalah seorang penjual barang bekas di pasar Beringhardjo Yogyakarta, seorang pedagang kakilima yang setiap saat dikejar-kejar petugas trantib. Pak Aris tidak pernah mengenal dasi dan jas seperti yang selalu dikenakan oleh kita di bisnis NM (termasuk si leader ‘tak sobek-sobek mulutmu’). Pak Aris bahkan tidak pernah mengeyam bangku kuliah (tidak seperti sang leader ‘tak sobek-sobek mulutmu’ yang mantan dosen sebuah PTS terkemuka di Yogyakarta). Namun sebagai manusia, pak Aris sangat berharga. Pak Aris dalam berbisnis sudah menjalankan konsep business with heart, yang saya yakin dia sendiri tidak pernah tahu. Banyak yang merasa kehilangan ketika penyakit paru-paru merenggut hidupnya beberapa tahun yang lalu. Hal itu sudah menunjukkan bagaimana luarbiasanya konsep dagang pak Aris. Sayang pak Aris belum sempat mengenal bisnis Tianshi.

Memang banyak orang sukses di dunia ini, namun tidak semua berharga.

Salam Sukses dari Jogja!

CATATAN: Silakan mengutip artikel dari blog ini, tapi jangan lupa menyebutkan sumbernya, http://totalwellness.blogsome.com, dan buat link balik ke artikel tersebut.